Kamis, 23 Februari 2012

PEMIKIRAN POLITIK MUHAMMAD HATTA TENTANG “DEMOKRASI EKONOMI”






A.    DESKRIPSI PEMIKIRAN MOHAMMAD HATTA

Bung Hatta adalah salah satu the founding father dan tokoh proklator republik indonesia bersama soekarno. Dalam sejarah percaturan politik dan pemikiran politik diindonesia pada masa kolonialisme dan pendudukan jepang sserta pada era kemerdekaan mereka menjadi aikon bangsa indonesia dalam merancang indonesia yang merdeka dan beraulat, berkesejahteraan.
Sekilas menelusuri kehidupan pribadin Hatta (1902-1980), keluarganya, serta pendidikan dan perjuangan politiknya sangat penting karena sangat berpengaruh dalam bentuk cara berpikir. Hatta ketika kecil di Minagkabau terjaadi gejolak dan peperangan akibat prilaku kolonial belanda banyak berbuat tidak adil dan semena-mena pada rakyat.sehingga berakhir pada peperangan antara nagari kamang bukittiggi dengan pmerintah kolonial belanda  pada 1908. Hatta disekolahkan oleh oran tuanya di Sekolah Rakyat, hanya tiga tahun ia pindah kesekolah belanda,yakni Europese Lagere School (ELS). kemudian dia kuliah di belanda di Handels Hoogere School, dengan mengambil jurusan ekonomi perdaganga. Perjuangan Hatta pada pergulatan politik yang mempengaruhi pembentukkan kepribadiannya adalah ikut terlibat dalam kegiatab Jon Sumatrane Bon (JSB), serta pergaulannya dengan orang terkemuka dijakarta. Antara lain H Agus Slamim, Abdoel Moeis. Dibelanda Hatta pernah memimpin Perhimpunan Indonesia (PI), melalui organisasi ini dia menegaskan perlunya sikap Nonkooperatif untuk mengusir imperialisme Belanda demi tercapainya indonesia merdeka. Melalui semboyang “indonesia merdeka sekarang juga!” Hatta menghadiri forum internasional atau kongres anti inperialisme. Pada kongres anti imperialisme di Brussel pada 1927 dia berkenalan dengan tokoh dari belahan negara lain seperti tokoh pergerakn India Pandit Jawarha Nehru.   
Atas hasil pergulatannya dengan dunia luar dan dalam negri Bug Hatta menjadi tokoh yang menakutkan bagi Belannda dengan ketajaman berpikirnya. Memang menyelami pemikiran politik Hatta tentang politik keindonesia ibarat menyelam samudra luas. Begitu luas pemmaham yang beliau sumbagkan tentang konsep Negara yang ideal bagi tegaknya indosesia yang beradab, mandiri, dan sejahterah. Ada beberapa hal penting pemikiran politik Bung Hatta yang tersohor tentang “Demokrasi Ekonomi” yang mendampingi “demokrasi politik” antara lain:
Menurut Hatta kerakyatan dalam sistem ekonomi mengetengahkan pentingnya pengutamaan kepentingan rakyat, khusunya hajat hidup orang banyak,yang bersumber pada kedaulatan rakyat atau demokrasi. Oleh karena itu tidak berlaku sisem “ortodoksi ekonomi” sebagaimana pula demokrasi politick menolak “otokrasi politik”.
Dalam demokrasi ekonomi yang diajukan Bung Hatta berlaku “parisipasi ekonomi”, dan “emansipasi ekonomi”. Denokrasi itulah yang dimaksudnnya yang bermakna pada paham kerakyatan, bahwa rakyat adalah berdaulat.Bagaimana menegakkan dan menciptakan suatu masyarakat yang baik dan sejahterah. Untuk mencapai itu menurut Hatta, Pertama, harus ada jiwa dan semangat tolong menolong antara anggota dan warga masyarakat. Kedua, negara (politik) harus bersifat aktif dan tidak hanya menyerahkan sepenuhnya persoalan ekonomi kepada mekanisme pasar swasta dan koperasi. Bagi Bung Hatta kondisi seperti itu bisa menciptakan efisiensi yang tinggi sehingga mampu mengantarkan masyarakat pada tingkat kesejahteraan yang diharapkan. Atas pemikiran itu Hatta di juluki sebaga bapak kedaulatan, bapak koperasi (ekonomi) bangsa ini.
Atas pemikiran-politik tentang kedaulatan rakyat tersebut Bung Hatta mengalami tudingan oleh kawan-kawan seperjuangannya dan para analisis tentang pokok ajaran pikirannya tentang demokrasi politik dan demokrasi ekonomi dikemudian hari. Misalnya dalam konteks pemikiran islam perannya dalam menghapus tujuh (7) kata Piagam jakkarta menjelang proklamasi kemerdekaan, telah menyebabkan dirinya tidak sebagai kelompk islam. Misalnya Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Khar Muzakkar, M. Natsir, Syafruddin Prawira Negara dan lain-lain. Mengatakan sebagai “kelompok nasionalis” seperti Soekarno, dan Sjahrir.Hatta juga dicap sebagai kelompok “Nasionalis Sekuler” sebagai antitesis dari nasionalis islam. Demiian yang dikatakan TH. Sumartana dan MC Ricklefs. Lain dari pada itu, Endang Saifunddi Anshari mengatakan Hatta adalah “nasionalis muslim  sekuler.

B.     ANALISIS PEMIKIRAN MOHAMMAD HATTA

Benarkah Hatta meningtroduksi pemikiran Barat (sekuler)?. seperti yang dialamatkan oleh diatas. Menurut Nurcholish Madjid Hatta mengiginkan semua kegiatan kenegaraan harus berlangsung dibawah sinar ketuhanan yang maha esa, dengan begitu kegiatan kenegaraan kita memiliki dasar metafisik sehingga menghasilkan komitmen yang total, yang tumbuh dari kesadaran bahwa semua perbuatan dan tingkah laku manusia adalah bermakna dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan tuhan. Nasioanalis sekuler adalah “salah kaprah”.
Lepas dari dikotomi antara nasionalis islam dan nasionalis sekuler. Pada pokoknya Pemikirin “Demokrasi Ekonomi” Hatta hemat saya ada beberapa hal yang beliau harapkan adalah membangun masyarakat yang sejahterah (kedaulatan kerakyatan),. Negara yang kuat secara ekonomi, dan berakhir pada kedaulatan kerakyatan. Namun sesungguhnya ada beberapa kelemahan pemikiran tersebut. Semangat tolong menolong antara anggota dan warga masyarakat. Serta negara (politik) harus bersifat aktif dan tidak hanya menyerahkan sepenuhnya persoalan ekonomi kepada mekanisme pasar swasta dan koperasi. Semangat nasionalisme rakyat dan elit Negara yang menyatu, dan berkeadilan tidak dipikirkan. Padahal menurut penulis terciptanya semangat kebersamaan (gotong royong) dan adanya otoritas Negara dalam mengatur dan mengawal pengelolaan sumber ekonomi masyarakat berawal dari itu. Itulah kelemahan “Demokrasi Ekonomi” Bung Hatta sekiranya.






Buku Bacaan:
ANWAR ABAS. BUNG HATTA DAN EKONOMI ISLAM. Pergulatan Menangkap Makna Keadilan Dan Kesejahteraan.DITERBITKAN LP3M STIE Ahmad Dahlan Jakarta. 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar